Obesitas

Pengertian Obesitas


Istilah obseitas adalah suatu kondisi yang menggambarkan seseorang memiliki badan yang sangat gemuk dan mengandung banyak lemak pada tubuhnya. Terdapat bermacam cara untuk melakukan klasifikasi terhadap kegemukan, tetapi metode yang paling banyak digunakan adalah menggunakan indeks massa tubuh (IMT). Metode ini dilakukan dengan mengukur perbandingan antara berat badan (kilogram) dan tinggi badan (meter) kuadrat.

Faktor Risiko Obesitas

Faktor risiko yang menyebabkan seseorang terkena obesitas adalah genetik, gaya hidup keluarga, tidak aktif, diet tidak sehat, masalah medis tertentu, konsumsi obat-obatan tertentu, masalah sosial dan ekonomi, usia, kehamilan, serta kurang tidur.

 

Penyebab Obesitas

Obesitas terjadi ketika kadar kalori masuk lebih banyak dari yang dibutuhkan oleh tubuh. Hal tersebut menyebabkan energi menjadi berlebihan, sehingga diubah menjadi cadangan dalam bentuk lemak. Selain itu, pengaruh genetik, perilaku dan hormonal pada berat badan juga menjadi salah satu penyebab obesitas.
Obesitas dapat ditelusuri ke penyebab medis, seperti sindrom Prader-Willi, sindrom Cushing, penyakit dan kondisi lainnya. Meski begitu, gangguan ini jarang terjadi. Secara umum, penyebab utama obesitas adalah jarang beraktivitas serta pola makan dan kebiasaan makan yang tidak sehat.

Gejala Obesitas

Umumnya obesitas tahap awal tidak memiliki gejala yang berdampak pada tubuh. Pengidap tidak menyadari bahwa berat badannya terus meningkat serta pakaian lama menjadi kekecilan. Pengidap umumnya baru akan menyadari gejala tersebut setelah kerabat atau lingkungan sekitarnya mengingatkan dan memberi tahu. Diagnosis obesitas terjadi ketika indeks massa tubuh (BMI) adalah 30 atau lebih tinggi.
Indeks massa tubuh dihitung dengan membagi berat badan dalam kilogram dengan tinggi badan dalam meter kuadrat. Bagi kebanyakan orang, BMI memberikan perkiraan lemak tubuh yang masuk akal. Sayangnya, BMI tidak secara langsung mengukur kadar lemak dalam tubuh, sehingga beberapa orang, seperti atlet, memiliki BMI dalam kategori obesitas meskipun mereka tidak memiliki kelebihan lemak tubuh.

Diagnosis Obesitas

Anamnesis akan ditanyakan mengenai riwayat berat badan sebelumnya, upaya penurunan berat badan, kebiasaan olahraga, pola makan, kondisi lain apa yang miliki, obat-obatan, tingkat stres, dan masalah lain tentang kesehatan.
Riwayat kesehatan keluarga juga ditinjau untuk melihat adanya faktor resiko. Pemeriksaan fisik umum termasuk mengukur tinggi badan, memeriksa tanda-tanda vital, seperti denyut jantung, tekanan darah dan suhu, mendengarkan hati dan paru-paru, dan memeriksa abdomen.
Hal ini harus dilakukan paling tidak setahun sekali. Setelahnya, untuk menentukan tingkat obesitas, maka berat badan dan tinggi badan diukur guna memeriksa indeks massa tubuh (BMI). Pengukuran tersebut harus dilakukan minimal setahun sekali.
BMI juga membantu menentukan risiko kesehatan keseluruhan dan perawatan apa yang mungkin sesuai. Selanjutnya, mengukur lingkar pinggang atau lemak visceral. Kemudian, memeriksa masalah kesehatan lainnya, seperti tekanan darah tinggi dan diabetes. Tes darah penting dilakukan untuk melihat faktor risiko dan gejala yang dapat dialami. Tes mungkin termasuk tes kolesterol, tes fungsi hati, glukosa puasa, tes tiroid dan lain-lain. Mungkin juga direkomendasikan tes jantung tertentu, seperti elektrokardiogram.

Pengobatan Obesitas

Memiliki pola makan sehat, diet rendah kalori, dan olahraga secara teratur adalah cara terbaik untuk mengobati obesitas. Lakukan diet berisi makanan seimbang, mengontrol kalori, dan juga melakukan aktivitas fisik untuk meningkatkan pembakaran energi dan cadangan energi.
Pada pengidap obesitas berat tanpa adanya penyakit lain dapat dipertimbangkan obat sindroma metabolik dan penurun nafsu makan. Meskipun jarang terjadi, tetapi pembedahan lambung dapat dilakukan.

Pencegahan Obesitas

Menurut Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI), obesitas remaja dapat dicegah dengan menerapkan pola makan sehat, modifikasi perilaku makan, melakukan aktivitas fisik, dan pantau pertumbuhannya. Berikut penjelasannya:

1. Menerapkan Pola Makan Sehat


Menu makan harian sebaiknya mengandung nutrisi lengkap, terdiri dari karbohidrat, lemak, vitamin, dan mineral. Sebagian besar piring makan diisi oleh sayuran, seperempat piring oleh nasi atau roti, seperempat piring oleh lauk - pauk, dan sisanya oleh buah. Jangan lupa untuk memenuhi kebutuhan cairan tubuh, baik dengan minum air putih, jus, atau konsumsi buah dan sayuran utuh.

2. Modifikasi Perilaku Makan

Misalnya, bantu anak menahan keinginan makan di luar jam makan utama, serta ajari anak mengontrol porsi dan jenis makanan yang dikonsumsi. Pastikan anak konsumsi camilan yang sehat, seperti buah - buahan segar di sela - sela waktu makan utama.

3. Aktivitas Fisik


Ajak anak beraktivitas fisik atau berolahraga bersama agar semangat melakukannya. Lakukan olahraga yang disukai anak selama 20 - 30 menit per hari, misalnya jalan kaki, sepak bola, bersepeda, berenang, dan basket. Selain mencegah obesitas, aktivitas fisik berdampak positif pada tumbuh kembang anak.

4. Pantau Pertumbuhan Anak

Caranya dengan mengukur berat dan tinggi badan untuk menentukan indeks massa tubuhnya. Berat badan dikatakan ideal jika memiliki indeks massa tubuh sekitar 18,5 – 22,9. Sedangkan, indeks massa tubuh lebih dari 25 perlu dicurigai mengidap obesitas.

Sumber:

Yuk Kenali Heatstroke!


Heatstroke

Apa itu heatstroke?
Heatstroke adalah kondisi ketika tubuh mengalami peningkatan suhu secara drastis hingga mencapai 40 derajat Celcius atau bahkan lebih. Heatstroke biasanya terjadi saat seseorang menerima paparan suhu panas dari lingkungan sekitar di luar batas toleransi tubuhnya, misalnya saat cuaca sedang sangat terik.
Selain itu, olahraga atau aktivitas fisik berlebih juga bisa menjadi penyebab munculnya kondisi tersebut. Karena heatstroke merupakan kondisi gawat darurat yang memerlukan penanganan segara, maka penting bagi Anda untuk mengetahui tanda-tanda dari kondisi tersebut dan bagaimana cara menanganinya
Tanda-Tanda Heatstroke yang Perlu Anda Ketahui
Seseorang yang terkena heatstroke umumnya akan mengalami beberapa gejala berikut ini: 
  1. Peningatan suhu tubuh hingga suhu 40 derajat Celsius atau lebih.
  2. Pusing.
  3. Sakit kepala.
  4. Kulit memerah dan mengering.
  5. Tidak berkeringat walau suhu tubuh sedang tinggi.
  6. Mual dan muntah.
  7. Kelemahan otot dan kram.
  8. Jantung berdebar kencang.
  9. Perubahan perilaku, seperti kebingungan, linglung, gelisah, dan cepat marah.
  10. Kejang.
  11. Pingsan.
Jika seseorang mengalami tanda-tanda heatstroke di atas, segera berikan pertolongan pertama guna mencegah munculnya komplikasi serius yang bisa mengancam jiwa.
Pertolongan Pertama yang Bisa Dilakukan Menangani Heatstroke
Berikut adalah pertolongan pertama yang bisa dilakukan saat seseorang terkena heatstroke:
1. Pindahkan ke tempat yang lebih dingin

Saat terkena heatstroke, langkah awal yang bisa Anda lakukan untuk mencegah kondisi tersebut semakin parah adalah dengan pindah ke tempat yang lebih sejuk, misalnya di bawah pepohonan.
Hal ini dilakukan untuk mengurangi paparan sinar matahari langsung yang dapat meningkatkan suhu tubuh. Bila memungkinkan, lepaskan atau gantilah pakaian yang lebih nyaman.

2. Kompres seluruh tubuh

Apabila berpindah tempat tidak cukup membantu dalam menurunkan suhu tubuh akibat heatstroke, berikan kompres dingin pada tubuh. Kompreslah tubuh penderita heatstroke dengan es batu, terutama di bagian leher, ketiak, dan selangkangannya. Bagian-bagian tubuh tersebut merupakan titik panas yang harus segera diturunkan suhunya. Selain itu, Anda juga bisa menyemprotkan air ke tubuh penderita untuk mempercepat proses penurunan suhu.
Namun jika heatstroke terjadi pada lansia, anak-anak, pasien dengan penyakit kronis, atau seseorang yang mengalaminya karena latihan atau olahraga berat, jangan lakukan kompres dengan es.
Namun jika heatstroke terjadi pada lansia, anak-anak, pasien dengan penyakit kronis, atau seseorang yang mengalaminya karena latihan atau olahraga berat, jangan lakukan kompres dengan es.

3. Berikan minum air putih yang banyak
Bila penderita heatstroke sadar, Anda juga perlu memberikannya minum air putih yang banyak. Pasalnya, saat heatstroke terjadi, tubuh akan memproduksi panas yang menyebabkan jumlah cairan tubuh berkurang. Bila kondisi ini dibiarkan, dikhawatirkan akan terjadi dehidrasi akut.
Namun, pastikan Anda tidak memberikannya minuman yang terlalu dingin, mengandung kafein, atau alkohol, karena justru akan memberikan efek negatif pada tubuh.
Tips Mencegah Heatstroke
Pada dasarnya, heatstroke adalah kondisi yang bisa diprediksi dan dapat dicegah. Ikutilah langkah-langkah berikut ini untuk mencegah heatstroke ketika beraktivitas di cuaca yang sedang panas terik: 
  1. Gunakan pakaian yang longgar, berwarna terang, dan berbahan ringan saat ingin keluar rumah.
  2. Kenakan juga topi dengan tepian yang lebar.
  3. Oleskan tabir surya ke kulit. Pilih tabir surya dengan SPF minimal 30.
  4. Cukupi asupan cairan. Hal ini untuk mencegah dehidrasi.
  5. Bijaklah dalam memilih waktu untuk beraktivitas di luar ruangan. Jika memungkinkan, tunda aktivitas berat di luar ruangan saat cuaca sedang panas terik. Ganti jadwal aktivitas tersebut ke pagi atau sore hari.
Heatstroke perlu segera ditangani. Jadi, jika Anda mengalami serangan heatstroke atau melihat seseorang mengalaminya, segera lakukan pertolongan pertama untuk menurunkan suhu tubuh. Bila pertolongan ini tidak cukup efektif menurunkan suhu tubuh dengan cepat, segera cari bantuan medis agar heatstroke tidak semakin parah.

Sumber:

Nabila Rahmadani
Ilmu Kesehatan Masyarakat
Fakultas Kesehatan Masyarakat
Universitas Andalas

Dosen Pengampu:
Emy Leonita, S.K.M., M.P.H